“Bagaimana Jika Robot Memukul Bayi Anda?”

Posted: Desember 6, 2009 in Iseng2

VIVAnews – Suatu waktu, Eric Horvitz, hendak mengunjungi seorang pasien di Rumah Sakit Stanford. Horvitz lalu menaiki elevator. Namun di ujung elevator, Horvitz terhambat sebuah robot seukuran mesin cuci yang tak bisa bergerak maju.

“Saya berpikir, ini menakutkan,” ujarnya. “Lalu saya berpikir, bagaimana jika saya seorang pasien yang harus buru-buru berobat? Ada isu besar di sini,” ujarnya.

Gambaran itu mungkin jauh dari bayangan menakutkan dari film “the Terminator” yang menceritakan robot pembunuh manusia. Namun sebentar lagi, kemunculan robot-robot sederhana yang murah untuk membuat susu sudah tak terelakkan lagi.

Namun ada persoalan yang belum terjawab, bagaimana jika robot menyerang Anda, menginjak kaki Anda atau meninju bayi Anda? Memang tak semenyeramkan “Terminator” namun tak mustahil tindakan robot ini berakibat fatal.

“Semakin kita tergantung kepada sistem yang otomatis, kita harus memikirkan implikasinya. Ini bagian dari pertanggungjawaban ilmuwan,” ujar Horvitz.

Horvitz sudah membentuk sebuah tim ilmuwan awal tahun ini ketika dia masih menjabat Presiden Asosiasi Pengembangan Kepintaran Artifisial. Dia menyuruh tim itu menyelidiki masa depan interaksi manusia dengan robot.

Selama bertahun-tahun, robot dimanfaatkan di luar rumah. Robot mendeteksi bom, merakit mobil atau mengantarkan bahan makanan. Belakangan muncul robot-robot sederhana untuk pekerjaan rumah seperti memotong rumput, membersihkan debu, sistem pengawasan rumah dan bahkan untuk hiburan.

Tahun 2015, diperkirakan penjualan robot pribadi ini mencapai US$ 5 miliar atau sekitar Rp 50 triliun. “Anda akan melihat lebih banyak robot yang menolong merawat rumah. Robot akan membersihkan lantai, memasukkan makanan ke dalam kulkas, dan membawa barang-barang dari mobil,” ujar Colin Angle, Chief Executive Officer iRobot Corp.

Dan robot-robot itu semakin lama semakin canggih. Mereka bahkan nantinya, seperti program komputer, bisa dipasang perangkat lunak yang lebih canggih. Robot-robot pun semakin otonom.

Namun, kecanggihan itu tentu tak serta-merta bisa menghilangkan implikasi yang bisa muncul. Dan belum ada aturan hukum yang berwenang mengatur robot-robot itu. Diskusi mengenai ini kemudian mengarah ke sebuah karya fiksi sains karya Isaac Asimov yang menyebut “Tiga Hukum Robotik” pada tahun 1942.

Hukum Asimov pertama adalah, bahwa robot tak bisa membahayakan. Hukum ini menjadi pertimbangan terbesar saat mengembangkan robot pribadi.

“Jika robot semakin otonom dan bisa membuat keputusan sendiri, apa yang terjadi jika dia tak melaksanakan apa keinginan persis dari seorang manusia?” ujar George Bekey, peneliti robot dan Guru Besar Emeritus di University of Southern California.

Belum lagi, ketika robot semakin akrab dengan manusia, akan muncul ikatan tertentu. Banyak pemilik robot “Roombas” yang membantu di rumah, memberi robotnya nama dan mendekorasinya. Bahkan prajurit Amerika memberi nama robot untuk pembersih ranjau dengan nama Scooby.

Interaksi-interaksi semacam itulah yang akan diteliti tim yang dibentuk Horvitz. Tim ini juga menyarankan robot harus didesain dengan kemampuan menjelaskan alasan mereka ke manusia.

Dan ketika tim ini bekerja, Horvitz sudah melihat cara mengatasi kekhawatirannya. Di elevator tempat dia terjebak bersama sebuah robot, sudah tertulis sebuah papan peringatan: “Mohon Jangan Menaruh Robot di Elevator.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s